Feb 01

Tidak… tidak… tolong kalian jangan berfikir bahwa saya sedang menjadi seorang “al4y” dengan menyebut sistem operasi Ubuntu dengan sebutan Ubunchu. Ubunchu yang akan saya ceritakan di sini adalah judul sebuah komik Jepang.  Sebuah komik yang mereka labeli sebagai “The world’s first ubuntu Romantic School Comedy”.

Komik yang ditulis oleh Hiroshi Seo ini bercerita tentang klub komputer pada sebuah sekolah di Jepang. Mereka biasa menyebut klub itu “Sysadmin Study Club”. Tokoh-tokoh utamanaya antara lain :

  • Akane : ketua perkumpulan ini, seorang linux freak dan pengemar berat CLI.
  • Masato : Wakil ketua, penikmat Windows dan segala kemudahan yang ditawakan Microsoft.
  • Risa : Anggota junior mereka, newbie polos yang bersemangat sekali untuk belajar dari mereka.

Di Jepang, komik ini diterbitkan oleh ASCII Media Work Inc. Sedangkan untuk versi elektroniknya, silahkan simak sendiri di http://www.aerialline.com/comics/ubunchu/ atau versi Bahasa Inggrisnya di http://seotch.wordpress.com/.

BTW, sebenarnya yang saya suka dari judulnya “Ubunchu”, hmm… cute banget..:D

written by Rizal \\ tags: , , , ,

Jan 22

Buat anda pengguna modem ZTE AC2726 paket dari smart-telecom, pernahkah anda berusaha untuk mencari tahu level sinyal yang diterima oleh modem anda? Fasilitas yang disediakan oleh software bawaan dari paket modem ini hanya menampilkannya dalam bentuk diagram bar seperti pada ponsel. Dengan begitu kita hanya bisa menilai, bila bar-nya sedikit berarti sinyalnya kecil dan bila bar-nya banyak berarti sinyalnya tinggi.

Kita tidak bisa melihat nilai kuat sinyalnya dalam satuan (dB). Nilai ini bermanfaat bila kita ingin membandingkan sinyal yang kita terima di suatu tempat dengan tempat yang lain. Selain itu bermanfaat pula bila kita ingin mengukur gain saat kita menggunakan antenna tambahan, dengan mengukur level sinyal sebelum dan sesudah menggunakan antenna tambahan.

Dari hasil oprek sana – oprek sini, walaupun agak ribet kita bisa melihat level sinyal dengan cara berikut :

  1. Periksa di port berapa modem kita terhubung.modem_properties
  2. Buka hyperterminal atau program sejenisnya, untuk mengonsol modem anda melalui port yang telah kita ketahui dari langkah 1 dengan baud-rate 115200 bps. Untuk parameter konfigurasi  lebih lengkap lihat gambar.hyperterminal_properties
  3. Jalankan perintah “AT command ” :

AT+CSQ?

Perintah tersebut akan menampilkan :

+CSQ : <RSSI>, <FER>

RSSI atau Received Signal Strength Indication akan bernilai antara ‘0 – 31′. Semakin besar nilainya, berarti semakin tinggi intensitas sinyalnya. Sedangkan untuk mengetahui nilai dalam (dB) dapat dikonversi dengan rumus berikut :

RSSI = 31  x  (125 – |nilai (dB)|) / 50

Sedangkan FER atau Frame Error Rate, bila bernilai ‘99′ berarti mengindikasikan bahwa FER tidak diketahui atau tidak terdeteksi.

Sebenarnya bila kita mengonsol modem ini, kita juga bisa menggunakan perintah-perintah AT Command lainnya untuk mengontrol modem ini. Namun, tidak semua perintah AT command dapat digunakan. Silakan para pembaca cari sendiri perintah-perintah apa saja yang bisa digunakan dan bermanfaat untuk anda…

written by Rizal \\ tags: ,

Dec 17

Saya suka sekali memakai kaos saya yang satu ini. Selain nyaman dipakai, bisa sekalian kampanye hemat energi dan cinta lingkungan. Tetapi saudara-saudara, ternyata saya baru sadar kalau ada yang ganjil, yaitu tulisan “energi”. Bukankah itu ejaan kata dalam Bahasa Indonesia? Atau memang sengaja dicampur kali yah…

Sudahlah… Kaos gratisan ini. Kaos ini saya dapat dari sebuah perusahaan listrik saat saya mengunjungi stan-nya di kampus ITB beberapa waktu yang lalu.

written by Rizal \\ tags: , ,

Oct 29

Sebagai salah satu legenda musik Indonesia, Iwan Fals kerap memperhatikan masalah-masalah sosial negara kita, termasuk pula masalah lingkungan. Kali ini Iwan Fals bersama Greenpeace Indonesia menyelenggarakan Konser Mini untuk mendukung kampanye penyelamatan hutan terutama di Semenanjung Kampar Riau.

Dan sebagai salah satu pendukung Greenpeace saya mendapat undangan untuk menyaksikan konser ini. Wow… betapa beruntungnya… Sudah tidak sabar untuk nonton Iwan Fals…

written by Rizal \\ tags: ,

Oct 25

Minggu ini tanggal 1 Oktober 2009, Yamaha Musik Indonesia mengadakan konser amal untuk korban gempa di Sumatera Barat. Acara ini diadakan di Djakarta Theater dengan menghadirkan berbagai artist nasional, antara lain : Slank, Tompi, Jubing Kristianto…. (wew… saya ingin nonton aksi Jubing:D)

Konser Amal Yamaha
Konser Amal Yamaha

written by Rizal \\ tags: ,

Jul 29

Masih ingat “kebetulan” yang saya ceritakan? Bagaimana kalau itu terjadi untuk kedua kalinya secara berturut-turut.?

Ya… Kejadiannya hampir sama. Beberaapa hari yang lalu saya kembali membeli dua buku. Kali ini di Leksika Lenteng Agung. Dua buku itu adalah “New Life” karangan Orhan Pamuk dan “Stone Woman” yang merupakan salah satu dari tetralogi karya Tariq Ali. Kejadian yang tak sama walaupun serupa kembali terjadi. Setelah membaca buku yang pertama (New Life), di buku yang kedua (Stone Woman) saya mendapati salah satu tokoh yang bernama “Orhan”, persis seperti nama tokoh buku yang pertama.

Kebetulankah…? Dan ini adalah kejadian untuk kedua kalinya secara berturut-turut.

written by Rizal

Jun 27

Entah kebetulan atau bukan…

Beberapa hari yang lalu saya membeli dua buah buku di toko buku Gramedia Depok. Buku yang pertama berjudul “Miskin Tapi Sombong”, buah karya dari Iwan “Bung Kelinci” Sulistiawan. Sedangkan buku yang kedua adalah buku tulisan Windry Ramadhina yang berjudul “Metropolis”.

Entah kebetulan atau bukan…

Di dalam cerita yang ditulis Windry di “Metropolis” ini terdapat salah satu tokoh yang bernama julukan “Bung Kelinci”. Nama julukan yang sama dengan yang dimiliki oleh penulis buku saya yang satunya. Agak terasa aneh bagi saya, jadi seolah membaca dua buku yang saling bertautan padahal sebenarnya tidak.

Kenapa yah, kedua buku itu yang menjadi pilihan saya waktu itu…?! Mungkin memang kebetulan semata, dan kebetulan juga saya membeli kedua buku itu pada saat yang bersamaan…

written by Rizal

Dec 18

“Jangan menilai buku dari sampulnya…”

atau dalam bahasa Inggrisnya

“Don’t judge a book by its cover…”

Pepatah diatas mungkin sudah akrab sekali dengan kita. Malah sepertinya sejak SD sudah kita pelajari di pelajaran Bahasa Indonesia. Kata-kata itu memang mempunyai makna konotasi yang cukup dalam lho. Yaitu kita jangan menilai sesuatu hanya dari penampilannya saja. Baik itu menilai seseorang maupun suatu hal lainnya. Banyak hal yang meskipun cantik diluarnya, tapi sesungguhnya tidak sebaik yang kita kira. Dan ada pula yang tidak terlalu cantik, tetapi di dalamnya mempunyai kekuatan yang sangat besar.

Tapi yang ingin saya bahas dalam tulisan saya kali ini adalah makna secara harfiahnya. Ya… “Jangan menilai buku hanya dari sampulnya…”. Beberapa kali saya telah salah menilai buku. Komentar-komentar konyol pun terlontar dari mulut saya karena saya belum membacanya dan hanya melihat sampulnya saja.

Salah satunya adalah pengalaman saat saya menemani seorang teman yang biasa saya panggil “Linux”. Waktu di toko buku, dia sedang memilih sebuah novel dan ditunjukkannya kepada saya untuk meminta pendapat. Dengan melihat sampulnya yang bergambar seorang wanita bercadar, nama penulis yang sok kearab-araban, dan judulnya yang menurut saya “nggak” banget, saya langsung saja nyerocos ga karuan. Sambil melakukan analisa dengkal saya, saya bilang :

“Halah nux, buat apa baca buku ginian? Buku terjemahan gini paling isinya ga jelas. Ntar pasti ada beda budaya yang tidak bisa diinterpretasikan dengan sempurna. Lagian dari judulnya aja udah keliatan ‘jual nama agama’ banget. Paling cuma sejenis roman picisan dari timur tengah.”

Ternyata saya salah… Tahukah anda buku apa yang saya pegang itu? Buku itu adalah novel yang berjudul “Ayat-ayat Cinta” Karya Habiburrahman El-Shirazi. Hehe… buku ini pula yang nantinya menjadi Best-seller dan fenomena dalam dunia sastra Indonsia. Bahkan filmnya juga booming banget. Saya baru menyadarinya saat Linux meminjamkannya pada Iqbal, teman saya yang lain. Saat dia mengembalikannya, dia menitipkannya ke saya. Dan saat itulah di mencoba meyakinkan saya kalau buku itu bagus. Dan ternyata saya salah besar. Shirazy bukanlah orang timur tengah, tapi orang asli Indonesia yang menyelesaikan studinya di Al-Azhar.

Peristiwa yang kedua juga saya alami dengan Linux. Waktu itu dia sedang memilih buku “5cm” karya Dony Dhirgantoro. Dia mengambil buku dengan sampul hitam legam itu. Di sampul depannya ada beberapa tulisan yang fontnya juga hitam dan di bagian tengah sampul depannya ada juga tulisan “5cm” dengan font yang agak besar berwarna putih. Dia bilang, “keren juga nih, covernya elegan…”. Dan dengan cepat saya mengambil buku itu dari tumpukan yang lainnya sambil biang, “walah nux, keren dari mana?  justru yang tampilannya sok misterius kayak gini ini biasanya isinya ga jelas. Lagian masak cuma “5cm”? punyaku lebih dari itu kali…. (sambil melihat ke %^%&). Dan kami pun meletakkannya kembali sambil tertawa… hahaha…

Lagi-lagi saya salah besar…:d Setelah beberapa waktu berselang, seorang teman merekomendasikannya ke saya. Setelah saya baca, ternyata saya suka buku itu. Buku itu mempunyai karakter yang cukup kuat, penuh dialog-dialog yang filosofis, dan berisi kisah-kisah yang inspirasional. Bahkan kemarin saya sempatkan membacanya lagi, teruama bagian saat tokoh yang bernama “Ian” menyelesaikan skripsinya. Situasi yang dialami “Ian” itu memang memang hampir mirip dengan yang saya alami saat ini. :d

Setelah beberapa pengalaman tadi, saya sekarang lebih berhati-hati dalam mengomentari buku. Saya tidak berani lagi berkomentar kalau saya belum membacanya, atau setidaknya membaca sinopsis atau resensinya.

written by Rizal

Dec 14

Efek Rumah Kaca - Kamar Gelap

Di Pertengahan Nopember lalu, seorang teman menge-”buzz” melalui YM!. Dia cuma mau bilang kalau ada album baru Efek Rumah Kaca. Setelah saya cek punya cek, ternyata benar. Bahkan bukan cuma lagu baru tetapi, album baru. Tepatnya 19 Desember 2008 nanti ERK akan merilis album kedua mereka. OMG… saya nggak habis pikir, bagaimana bisa ya… teman saya yang kini tinggal di hutan pedalaman Sumatera itu bisa dapat info lebih cepat daripada saya yang tinggal di pinggiran ibu kota. hmmm…

Album kedua mereka ini berjudul Kamar Gelap. Sebuah hasil kolaborasi dengan seorang seniman fotografi bernama Angki Purbandono. Sebuah perpaduan yang cukup unik. Jadi ceritanya, dalam album ERK yang kedua nanti akan di sertakan 12 foto hasil jepretan sang fotografer ini. Diantara 12 foto itu termasuk foto yang digunakan sebagai sampul dalam kemasan album itu. Oh iya, ada satu lagi yang unik. Album ini nanti juga akan dirilis dalam dua versi, yaitu paket lengkap dan paket hemat. Paket lengkap album ini akan disajikan seperti halnya CD biasanya plus tambahan 12 foto yang telah saya sebutkan tadi. Sedangkan paket hematnya akan dibuat apa adanya, sehingga terjangkau oleh semua kalangan. Jadi… ga ada alasan buat membajak lagi kan…??

Continue reading »

written by Rizal

Oct 25

Lagu ini sudah ada dari sejak jaman saya masih kecil, atau mungkin sejak saya belum lahir kali ya… Sudah lama saya cari maksud dari lagu ini. Saya juga sudah tanya beberapa orang, tapi belum juga ada pencerahan. Kalau diantara suhu-suhu sekalian ada yang ngerti, tolong kasih tahu ya….

gula jawa rasane legi
kripik mlinjo dipangan asu
arep mulyo kudhu mersudi
buto ijo ojo digugu

tul jaenak
jae jatul jaeji
kuntul jare banyak
ndoke bajul kari siji

abang abang gendero londo
wetan sithik kuburan mayit
klambi abang nggo tondo mata
wedhak pupur nggo golek dhuwit

Lagu dari om-om Koes Plus ini simple banget dan gampang dinyanyikan. Bahkan waktu dibawakan ulang oleh Joshua, anak-anak kecil juga pada nyanyi lagu ini. Tetapi…. secara tragis-ironis saya belum ngerti arti kata-kata yang ada dalam liriknya…:D

written by Rizal