“Jangan menilai buku dari sampulnya…”
atau dalam bahasa Inggrisnya
“Don’t judge a book by its cover…”
Pepatah diatas mungkin sudah akrab sekali dengan kita. Malah sepertinya sejak SD sudah kita pelajari di pelajaran Bahasa Indonesia. Kata-kata itu memang mempunyai makna konotasi yang cukup dalam lho. Yaitu kita jangan menilai sesuatu hanya dari penampilannya saja. Baik itu menilai seseorang maupun suatu hal lainnya. Banyak hal yang meskipun cantik diluarnya, tapi sesungguhnya tidak sebaik yang kita kira. Dan ada pula yang tidak terlalu cantik, tetapi di dalamnya mempunyai kekuatan yang sangat besar.
Tapi yang ingin saya bahas dalam tulisan saya kali ini adalah makna secara harfiahnya. Ya… “Jangan menilai buku hanya dari sampulnya…”. Beberapa kali saya telah salah menilai buku. Komentar-komentar konyol pun terlontar dari mulut saya karena saya belum membacanya dan hanya melihat sampulnya saja.
Salah satunya adalah pengalaman saat saya menemani seorang teman yang biasa saya panggil “Linux”. Waktu di toko buku, dia sedang memilih sebuah novel dan ditunjukkannya kepada saya untuk meminta pendapat. Dengan melihat sampulnya yang bergambar seorang wanita bercadar, nama penulis yang sok kearab-araban, dan judulnya yang menurut saya “nggak” banget, saya langsung saja nyerocos ga karuan. Sambil melakukan analisa dengkal saya, saya bilang :
“Halah nux, buat apa baca buku ginian? Buku terjemahan gini paling isinya ga jelas. Ntar pasti ada beda budaya yang tidak bisa diinterpretasikan dengan sempurna. Lagian dari judulnya aja udah keliatan ‘jual nama agama’ banget. Paling cuma sejenis roman picisan dari timur tengah.”
Ternyata saya salah… Tahukah anda buku apa yang saya pegang itu? Buku itu adalah novel yang berjudul “Ayat-ayat Cinta” Karya Habiburrahman El-Shirazi. Hehe… buku ini pula yang nantinya menjadi Best-seller dan fenomena dalam dunia sastra Indonsia. Bahkan filmnya juga booming banget. Saya baru menyadarinya saat Linux meminjamkannya pada Iqbal, teman saya yang lain. Saat dia mengembalikannya, dia menitipkannya ke saya. Dan saat itulah di mencoba meyakinkan saya kalau buku itu bagus. Dan ternyata saya salah besar. Shirazy bukanlah orang timur tengah, tapi orang asli Indonesia yang menyelesaikan studinya di Al-Azhar.
Peristiwa yang kedua juga saya alami dengan Linux. Waktu itu dia sedang memilih buku “5cm” karya Dony Dhirgantoro. Dia mengambil buku dengan sampul hitam legam itu. Di sampul depannya ada beberapa tulisan yang fontnya juga hitam dan di bagian tengah sampul depannya ada juga tulisan “5cm” dengan font yang agak besar berwarna putih. Dia bilang, “keren juga nih, covernya elegan…”. Dan dengan cepat saya mengambil buku itu dari tumpukan yang lainnya sambil biang, “walah nux, keren dari mana? justru yang tampilannya sok misterius kayak gini ini biasanya isinya ga jelas. Lagian masak cuma “5cm”? punyaku lebih dari itu kali…. (sambil melihat ke %^%&). Dan kami pun meletakkannya kembali sambil tertawa… hahaha…
Lagi-lagi saya salah besar…:d Setelah beberapa waktu berselang, seorang teman merekomendasikannya ke saya. Setelah saya baca, ternyata saya suka buku itu. Buku itu mempunyai karakter yang cukup kuat, penuh dialog-dialog yang filosofis, dan berisi kisah-kisah yang inspirasional. Bahkan kemarin saya sempatkan membacanya lagi, teruama bagian saat tokoh yang bernama “Ian” menyelesaikan skripsinya. Situasi yang dialami “Ian” itu memang memang hampir mirip dengan yang saya alami saat ini. :d
Setelah beberapa pengalaman tadi, saya sekarang lebih berhati-hati dalam mengomentari buku. Saya tidak berani lagi berkomentar kalau saya belum membacanya, atau setidaknya membaca sinopsis atau resensinya.
written by Rizal
Recent Comments