Oct 29

Sebagai salah satu legenda musik Indonesia, Iwan Fals kerap memperhatikan masalah-masalah sosial negara kita, termasuk pula masalah lingkungan. Kali ini Iwan Fals bersama Greenpeace Indonesia menyelenggarakan Konser Mini untuk mendukung kampanye penyelamatan hutan terutama di Semenanjung Kampar Riau.

Dan sebagai salah satu pendukung Greenpeace saya mendapat undangan untuk menyaksikan konser ini. Wow… betapa beruntungnya… Sudah tidak sabar untuk nonton Iwan Fals…

written by Rizal \\ tags: ,

Oct 25

Minggu ini tanggal 1 Oktober 2009, Yamaha Musik Indonesia mengadakan konser amal untuk korban gempa di Sumatera Barat. Acara ini diadakan di Djakarta Theater dengan menghadirkan berbagai artist nasional, antara lain : Slank, Tompi, Jubing Kristianto…. (wew… saya ingin nonton aksi Jubing:D)

Konser Amal Yamaha
Konser Amal Yamaha

written by Rizal \\ tags: ,

Jul 29

Masih ingat “kebetulan” yang saya ceritakan? Bagaimana kalau itu terjadi untuk kedua kalinya secara berturut-turut.?

Ya… Kejadiannya hampir sama. Beberaapa hari yang lalu saya kembali membeli dua buku. Kali ini di Leksika Lenteng Agung. Dua buku itu adalah “New Life” karangan Orhan Pamuk dan “Stone Woman” yang merupakan salah satu dari tetralogi karya Tariq Ali. Kejadian yang tak sama walaupun serupa kembali terjadi. Setelah membaca buku yang pertama (New Life), di buku yang kedua (Stone Woman) saya mendapati salah satu tokoh yang bernama “Orhan”, persis seperti nama tokoh buku yang pertama.

Kebetulankah…? Dan ini adalah kejadian untuk kedua kalinya secara berturut-turut.

written by Rizal

Jun 27

Entah kebetulan atau bukan…

Beberapa hari yang lalu saya membeli dua buah buku di toko buku Gramedia Depok. Buku yang pertama berjudul “Miskin Tapi Sombong”, buah karya dari Iwan “Bung Kelinci” Sulistiawan. Sedangkan buku yang kedua adalah buku tulisan Windry Ramadhina yang berjudul “Metropolis”.

Entah kebetulan atau bukan…

Di dalam cerita yang ditulis Windry di “Metropolis” ini terdapat salah satu tokoh yang bernama julukan “Bung Kelinci”. Nama julukan yang sama dengan yang dimiliki oleh penulis buku saya yang satunya. Agak terasa aneh bagi saya, jadi seolah membaca dua buku yang saling bertautan padahal sebenarnya tidak.

Kenapa yah, kedua buku itu yang menjadi pilihan saya waktu itu…?! Mungkin memang kebetulan semata, dan kebetulan juga saya membeli kedua buku itu pada saat yang bersamaan…

written by Rizal

Dec 18

“Jangan menilai buku dari sampulnya…”

atau dalam bahasa Inggrisnya

“Don’t judge a book by its cover…”

Pepatah diatas mungkin sudah akrab sekali dengan kita. Malah sepertinya sejak SD sudah kita pelajari di pelajaran Bahasa Indonesia. Kata-kata itu memang mempunyai makna konotasi yang cukup dalam lho. Yaitu kita jangan menilai sesuatu hanya dari penampilannya saja. Baik itu menilai seseorang maupun suatu hal lainnya. Banyak hal yang meskipun cantik diluarnya, tapi sesungguhnya tidak sebaik yang kita kira. Dan ada pula yang tidak terlalu cantik, tetapi di dalamnya mempunyai kekuatan yang sangat besar.

Tapi yang ingin saya bahas dalam tulisan saya kali ini adalah makna secara harfiahnya. Ya… “Jangan menilai buku hanya dari sampulnya…”. Beberapa kali saya telah salah menilai buku. Komentar-komentar konyol pun terlontar dari mulut saya karena saya belum membacanya dan hanya melihat sampulnya saja.

Salah satunya adalah pengalaman saat saya menemani seorang teman yang biasa saya panggil “Linux”. Waktu di toko buku, dia sedang memilih sebuah novel dan ditunjukkannya kepada saya untuk meminta pendapat. Dengan melihat sampulnya yang bergambar seorang wanita bercadar, nama penulis yang sok kearab-araban, dan judulnya yang menurut saya “nggak” banget, saya langsung saja nyerocos ga karuan. Sambil melakukan analisa dengkal saya, saya bilang :

“Halah nux, buat apa baca buku ginian? Buku terjemahan gini paling isinya ga jelas. Ntar pasti ada beda budaya yang tidak bisa diinterpretasikan dengan sempurna. Lagian dari judulnya aja udah keliatan ‘jual nama agama’ banget. Paling cuma sejenis roman picisan dari timur tengah.”

Ternyata saya salah… Tahukah anda buku apa yang saya pegang itu? Buku itu adalah novel yang berjudul “Ayat-ayat Cinta” Karya Habiburrahman El-Shirazi. Hehe… buku ini pula yang nantinya menjadi Best-seller dan fenomena dalam dunia sastra Indonsia. Bahkan filmnya juga booming banget. Saya baru menyadarinya saat Linux meminjamkannya pada Iqbal, teman saya yang lain. Saat dia mengembalikannya, dia menitipkannya ke saya. Dan saat itulah di mencoba meyakinkan saya kalau buku itu bagus. Dan ternyata saya salah besar. Shirazy bukanlah orang timur tengah, tapi orang asli Indonesia yang menyelesaikan studinya di Al-Azhar.

Peristiwa yang kedua juga saya alami dengan Linux. Waktu itu dia sedang memilih buku “5cm” karya Dony Dhirgantoro. Dia mengambil buku dengan sampul hitam legam itu. Di sampul depannya ada beberapa tulisan yang fontnya juga hitam dan di bagian tengah sampul depannya ada juga tulisan “5cm” dengan font yang agak besar berwarna putih. Dia bilang, “keren juga nih, covernya elegan…”. Dan dengan cepat saya mengambil buku itu dari tumpukan yang lainnya sambil biang, “walah nux, keren dari mana?  justru yang tampilannya sok misterius kayak gini ini biasanya isinya ga jelas. Lagian masak cuma “5cm”? punyaku lebih dari itu kali…. (sambil melihat ke %^%&). Dan kami pun meletakkannya kembali sambil tertawa… hahaha…

Lagi-lagi saya salah besar…:d Setelah beberapa waktu berselang, seorang teman merekomendasikannya ke saya. Setelah saya baca, ternyata saya suka buku itu. Buku itu mempunyai karakter yang cukup kuat, penuh dialog-dialog yang filosofis, dan berisi kisah-kisah yang inspirasional. Bahkan kemarin saya sempatkan membacanya lagi, teruama bagian saat tokoh yang bernama “Ian” menyelesaikan skripsinya. Situasi yang dialami “Ian” itu memang memang hampir mirip dengan yang saya alami saat ini. :d

Setelah beberapa pengalaman tadi, saya sekarang lebih berhati-hati dalam mengomentari buku. Saya tidak berani lagi berkomentar kalau saya belum membacanya, atau setidaknya membaca sinopsis atau resensinya.

written by Rizal

Dec 14

Efek Rumah Kaca - Kamar Gelap

Di Pertengahan Nopember lalu, seorang teman menge-”buzz” melalui YM!. Dia cuma mau bilang kalau ada album baru Efek Rumah Kaca. Setelah saya cek punya cek, ternyata benar. Bahkan bukan cuma lagu baru tetapi, album baru. Tepatnya 19 Desember 2008 nanti ERK akan merilis album kedua mereka. OMG… saya nggak habis pikir, bagaimana bisa ya… teman saya yang kini tinggal di hutan pedalaman Sumatera itu bisa dapat info lebih cepat daripada saya yang tinggal di pinggiran ibu kota. hmmm…

Album kedua mereka ini berjudul Kamar Gelap. Sebuah hasil kolaborasi dengan seorang seniman fotografi bernama Angki Purbandono. Sebuah perpaduan yang cukup unik. Jadi ceritanya, dalam album ERK yang kedua nanti akan di sertakan 12 foto hasil jepretan sang fotografer ini. Diantara 12 foto itu termasuk foto yang digunakan sebagai sampul dalam kemasan album itu. Oh iya, ada satu lagi yang unik. Album ini nanti juga akan dirilis dalam dua versi, yaitu paket lengkap dan paket hemat. Paket lengkap album ini akan disajikan seperti halnya CD biasanya plus tambahan 12 foto yang telah saya sebutkan tadi. Sedangkan paket hematnya akan dibuat apa adanya, sehingga terjangkau oleh semua kalangan. Jadi… ga ada alasan buat membajak lagi kan…??

Continue reading »

written by Rizal

Oct 25

Lagu ini sudah ada dari sejak jaman saya masih kecil, atau mungkin sejak saya belum lahir kali ya… Sudah lama saya cari maksud dari lagu ini. Saya juga sudah tanya beberapa orang, tapi belum juga ada pencerahan. Kalau diantara suhu-suhu sekalian ada yang ngerti, tolong kasih tahu ya….

gula jawa rasane legi
kripik mlinjo dipangan asu
arep mulyo kudhu mersudi
buto ijo ojo digugu

tul jaenak
jae jatul jaeji
kuntul jare banyak
ndoke bajul kari siji

abang abang gendero londo
wetan sithik kuburan mayit
klambi abang nggo tondo mata
wedhak pupur nggo golek dhuwit

Lagu dari om-om Koes Plus ini simple banget dan gampang dinyanyikan. Bahkan waktu dibawakan ulang oleh Joshua, anak-anak kecil juga pada nyanyi lagu ini. Tetapi…. secara tragis-ironis saya belum ngerti arti kata-kata yang ada dalam liriknya…:D

written by Rizal

Oct 16

Ini salah satu foto yang saya dapat waktu lebaran kemarin. Ada yang tahu ini gambar buah apakah??

Mangga Apel

Jika kalian kira itu adalah gambar buah apel, maka kalian salah. Karena itu adalah gambar “Mangga”.  Awalnya saya juga heran, karena bentuknya mirip sekali apel, tapi saya mengenali bentuk pohonnya itu adalah pohon mangga. Kata kakakku itu memang namanya mangga apel. Entah bagaimana asal-usulnya hingga bisa seperti itu…

hmm…. kalau mangga duren ada ga ya…???

written by Rizal

Oct 11

BlakanisBLAKANIS“, tulisan putih dengan font yang sangat besar hingga hampir menutupi seluruh sampulnya yang berlatar belakang hitam. Sampul buku ini memang sangat mencolok. Pantas saja kalau pengunjung setia Gramedia seperti saya ini secara reflek melirik, begitu melintas di depan raknya. Tapi yang membuat saya menyempatkan diri untuk menghampiri buku ini sebenarnya karena waktu itu yang terbaca oleh saya bukan BLAKANIS tapi BALANIS. Ya… spontan dong, saya jadi ingat sama buku BALANIS (Buku karangan Constantine Balanis, berjudul “Antenna Theory: Analysis and Design”). Buku wajib bagi mahasiswa yang menentukan Telekomunikasi sebagai jalan hidupnya.

Ternyata Blakanis itu jauh banget dan tidak ada hubungannya dengan Balanis. Blakanis ini adalah karangan dari Arswendo Atmowinoto. Buku ini penuh akan pesan-pesan kemanusiaan, kejujuran dan ketulusan.

Alkisah, seorang lelaki berumur 50an yang kemudian dipanggil sebagai “Ki Blaka” berniat untuk melakukan perubahan dalam hidupnya dengan meninggalkan rumah dan bermukim di sebuah tanah kosong. Di area itu dia mengharuskan orang-orang termasuk dirinya untuk bersikap “blaka” alias berkata jujur dan apa adanya. Lama kelamaan orang yang singgah semakin banyak. Termasuk seorang suster, polisi, artis dan mantan pejabat orde baru pun menjadi pengikutnya. Pengikut-pengikut Ki Blaka inilah yang kemudian dinamakan Blakanis. Mereka mengadakan pertemuan rutin untuk berdiskusi dan melakukan pengakuan.

Lama kelamaan anggota Blakanis pun semakin banyak dan mereka mulai mensakralkan ritual-ritual yang sebelumnya sebenarnya dilakukan dengan spontan. Blakanis pun berkembang  mirip sebuah aliran hingga oleh pemerintah dan orang-orang yang merasa kepentingannya terancam dianggap membahayakan dan harus disingkirkan.

Dari kisah Blakanis ini Arswendo sepertinya ingin menyampaikan kekuatan dari sebuah kejujuran. Selain itu ia juga mengingatkan kita akan konsekwensi dari kejujuran. Bila untuk menutupi kebohongan kita harus melakukan kebohongan lagi, maka dengan mengungkap suatu kebenaran akan terungkap pula kebenaran yang lain.

Satu hal lagi, “Musuh utama kejujuran bukan kebohongan, melainkan kepura-puraan. Baik pura-pura jujur atau pura-pura bohong”.

written by Rizal \\ tags: ,

Sep 26

Margo City 25 September 2008 pukul 22.19 (telat 19 menit mungkin gara-gara Si Joni telat bawa rollnya kali), Kami akhirnya nonton juga film itu. Film yang diangkat berdasarkan Novel karangan Andrea Hirata dengan judul yang sama. Sebenarnya saya tidak terlalu antusias dengan film ini. Mungkin gara-gara over-eksploitasi kali ya… atau karena buku keempatnya yang tak kunjung terbit yang membuat saya agak kesal. Atau mungkin karena imbas dari reputasi beberapa film indonesia sebelumnya yang juga diangkat dari sebuah novel best-seller, you-know-lah…..

Bagaimanapun juga Film seperti ini memang wajib tonton sih. Indonesia kan jarang-jarang punya film dengan gender seperti ini. Apalagi kalau melihat jajaran nama di belakang pembuatan film ini, seperti hendak meyakinkan kalau film ini benar-benar digarap dengan sangat serius. Bosenlah kalau tiap hari disuguhi sinetronnya Punjabi group. Meskipun demikian, sejak awal saya tidak ingin membanding-bandingkan film ini dengan versi novelnya. Saya berangkat bukan sebagai pembaca buku yang ingin melihat versi filmnya, tapi mau nonton film yang kurang lebih sudah tahu latar belakang ceritanya. Anggaplah seperti nonton film Siti Nurbaya, yang notabene kita semua kan tahu seperti apa kisahnya.

Seperti anggapan saya sebelumnya, buku yang berlabel “Indonesia’s Most Powerful Book” ini sebenarnya bukanlah penulisan andrea yang membuatnya powerful, melainkan cerita yang ada di dalamnya. Jadi begitu cerita ini dibawa ke media film, spiritnya masih begitu kuat. Spirit anak-anak Indonesia yang tak kenal menyerah dalam segala kekurangan. Semangat perjuangan untuk mengejar pelangi, cie…heheh… Dan MiLes dkk memang bisa menyajikannya dengan apik. Mulai dari suasana haru nan dramatis seperti momen ketika Om Markum Pak Hafan meninggal di dalam sekolah, hingga gelegak segar seperti efek pada saat ikal melihat tangan A Ling memberikan kapur dari balik tokonya. Detailnya kalian lihat sendirilah….

Oh iya… sedikit tambahan. Waktu nonton kemarin sebenarnya sih saya berharap endingnya agak lain (bukan happy ending gitu…). Saya ingin endingnya dibuat begitu dramatis tis… hingga setiap penonton merasakan betapa pahitnya yang dirasakan Lintang dkk. Hingga mereka semua seolah ingin membalaskan dendam Lintang pada keadaan dengan tidak menyia-nyiakan anugerah yang mereka peroleh. Karena bagian yang terberat dari perjuangan adalah terpaksa melihat perjuangan itu terhenti sebelum waktunya…. Yah tapi tak apalah, itu cuma harapan saya… itu pula sudah membuat wanita di samping kiri saya sesenggukan dan sesaat kemudian terkekeh sambil mengusap air matanya.

Berikutnya saya cuma berharap supaya film ini bisa “booming” dan ditonton oleh banyak anak-anak Indonesia. Karena saya yakin, bersama DENIAS (film yang menurut saya lebih powerful lagi) film Laskar Pelangi ini bisa menjadi inspirasi buat para pewaris peradaban nusantara ini. Sayang aja kalau film-film ini akhirnya tidak sampai pada target penontonnya.

Just info yah… sejak adegan pertama saya sudah bilang pada partner nonton saya kalau film ini sepertinya akan laris manis di Malaysia (melayunya kental banget). Tak apa-apa sih, asal tidak diklaim sebagai produk Malaysia aja…. :D

written by Rizal